PEKANBARU – Universitas Islam Riau (UIR) kembali menyelenggarakan Kajian Islam Rutin Bulanan sebagai upaya memperkuat wawasan keislaman dan membangun karakter sivitas akademika. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 2 Oktober 2026 ini berlangsung di Ruang Sidang Lantai II Gedung H. Rawi Kunin UIR, dengan menghadirkan Prof. Dr. Alaidin Koto, MA, sebagai pemateri.
Kajian ini dihadiri oleh Wakil Rektor III UIR, Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Deddy Purnomo Retno, S.T., M.T., GP.A-Utama, serta Direktur Direktorat Dakwah Islamiah (D2I) UIR, Assoc. Prof. Dr. H. Saproni, M.Ed. Kegiatan juga diikuti oleh sivitas akademika UIR secara luring maupun daring, sehingga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengikuti kajian dari berbagai lokasi.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Alaidin Koto, MA, menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan dan membangun masa depan. Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan tentang peristiwa masa lalu, melainkan pelajaran berharga yang dapat membantu suatu bangsa memahami jati dirinya, membaca tantangan zaman, dan menentukan arah ke depan.
Beliau mengibaratkan sejarah sebagai pelita bagi masa depan. Bangsa yang melupakan sejarah berisiko kehilangan arah dan identitas, sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh kepentingan maupun pemikiran dari luar. Oleh karena itu, pemahaman sejarah perlu mendapat perhatian dalam dunia pendidikan, terutama dalam membentuk karakter dan wawasan generasi muda.
Lebih lanjut, Prof. Alaidin menjelaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an mengandung pelajaran penting untuk memperteguh keyakinan dan prinsip hidup. Dengan mengambil hikmah dari perjalanan umat terdahulu, umat Islam diharapkan mampu mempertahankan jati diri, memperkuat keimanan, dan tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman.
Selain itu, kajian ini membahas pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai strategi yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat. Perselisihan yang terus dibiarkan dapat melemahkan persatuan dan menghambat kemajuan bangsa. Karena itu, masyarakat perlu membangun kesadaran bersama, menjaga persaudaraan, dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai kepentingan yang berpotensi memecah belah.
Dalam pembahasan mengenai kepemimpinan, Prof. Alaidin turut mengangkat pemikiran Imam Al-Ghazali tentang hubungan antara perilaku pemimpin dan kondisi masyarakat. Kecintaan berlebihan terhadap jabatan dan kehidupan dunia atau hubbud dunya dapat menggeser orientasi seseorang dari pengabdian menuju kepentingan pribadi. Hal ini menjadi pengingat bahwa pemimpin dan ulama memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga integritas, memberikan keteladanan, serta mengutamakan kepentingan umat.
Pada sesi tanya jawab, pembahasan berlanjut pada peran tasawuf dan tarekat dalam kehidupan seorang Muslim. Prof. Alaidin menjelaskan bahwa tasawuf dan tarekat bukanlah bentuk pelarian dari kehidupan dunia, melainkan sarana untuk menyucikan hati, memperbaiki akhlak, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Dengan demikian, seseorang diharapkan mampu menjalani kehidupan dunia secara bertanggung jawab tanpa kehilangan prinsip dan pegangan keislamannya.
Melalui Kajian Islam Rutin Bulanan ini, sivitas akademika UIR diharapkan semakin memahami pentingnya sejarah dalam membentuk cara pandang, menjaga prinsip keislaman, dan memperkuat persatuan. Nilai-nilai yang disampaikan dalam kajian ini diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Penyelenggaraan kajian ini merupakan bagian dari upaya Direktorat Dakwah Islamiah (D2I) UIR dalam memperkuat nilai-nilai keislaman di lingkungan universitas. Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara luring dan daring, UIR terus mendorong tumbuhnya lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki landasan keimanan, akhlak, dan tanggung jawab sosial. (FNA/D2I)





